Maka energi alternatif diperlukan untuk menghadapi krisis listrik nasional ini.
Di atas ada kartun dengan balon kata-kata yang masih kosong.
Berilah nama pada kedua tokoh dan isilah balon kata-kata sesuka anda!
Selamat mencoba ya...
Agua da Beber
Agua da beber... Camara
Agua da Beber
Agua da beber... Camara
.....
Sebuah reffrein dari musik jazz yang entah siapa penyanyinya. Pelantunnya seorang perempuan, dinyanyikan dengan lembut. Aku tinggal menikmati saja. Rasanya tak perlu mengetahui siapa penyanyinya. Apalagi penciptanya. Atau mungkin apa artinya Agua da Beber tadi. Atau memang perlu? Apa memang harus?! Sebagai penghargaan bagi si penyanyi dan segenap manusia yang memainkan istrumen musik hingga melahirkan melodi yang begitu lembut, dengan suara yang membuai. Ah! Musiknya juga hasil nodong teman. Karena memang enak di dengar. Akupun bukan tipe kurator yang memaknai karya seni dengan dalam. Aku hanya penikmat seni saja. Kunikmati dengan caraku, entah bagaimana orang menilainya. Karena memang begitulah seni. Untuk dinikmati. Jika mau; berpikirkanlah. Namun itu hak yang bersifat terpisah saja. Bukankah pekerjaan yang paling berat adalah berpikir! Lagipula musik itu aku kunikmati sambil pikiranku terbang entah kemana.
(Lagipula juga liriknya berbahasa latin!)
Pikiranku melayang pada nostalgia-nostalgia yang membuai. Pada teman yang sekarang tersebar entah di mana. Pada jalanan di Jogja sehabis hujan. Pada lampu minyak yang menghias gerobak-gerobak angkringan sambil diiringi obrolan-obrolan kesana-kemari dan gelak tawanya. Pada sore-sore yang selalu indah dengan langitnya yang cantik. Pada apapun yang melekat di sana. Di tempat paling indah di muka bumi.
....
Taking A Chance On Love
....
Musik beralih. Masih juga jazz. Kali ini dengan beat yang lebih cepat. Ringan. Masih juga saya tidak tahu siapa pelantunnya. Maaf, bukan maksud saya tidak menghargai. Malah saya sangat menghargai. Lagu anda saya dengar sampai habis. Bahkan beberapa kali aku ulangi. Namun sekali lagi maaf, bahasa Inggris saya juga kurang bagus. Jadi, maaf lagi, hanya kata yang menjadi judul itu saja yang saya ingat. Sekarang musik itu mengimajinasikanku pada masa depan.
Membayangkan musik itu dinikmati siang hari yang panas. Bersama sebuah buku yang seru. Membaca sampai tenggelam di dalamnya. Dengan angin siang yang menelusup dari sela-sela jendela. Dengan suara siang yang khas. Dengan... Ah... tidak... tidak! Itu seperti cerita masa lalu! Bukankah kukatakan tadi aku berimajinasi pada masa depan?
Lagu itu paling pas dinikmati sambil ngobrol. Bicara apapun. Dengan seseorang. Saya akan mendengarkan ceritanya yang seru. Yang tak pernah terpikirkan dalam imajinasiku sendiri.
Ah, tidak!
Saya tidak akan mendengarnya bercerita. Saya akan menikmatinya. Menikmati ceritanya. Menikmati gerak tubuhnya. Menikmati setiap kata yang keluar dari bibirnya. Menikmati setiap helai rambutnya yang dibelai angin. Mungkin juga aku akan memberikan sedikit belaian dan kecupan terimakasih. Menikmati cemberutnya, karena saya tak begitu menyimak ceritanya. Mungkin. Menikmati setiap detail wajahnya. Menikmati setiap hembusan nafasnya. Menikmati salah tingkahnya, sambil tersenyum.
Di tempat terindah. Bersama yang tercantik.


Mungkin akan beda jika “Perempuan Punya Cerita” adalah sebuah survey yang gak begitu valid yang pernah menghebohkan Jogja beberapa tahun lalu. Tapi “Perempuan Punya Cerita” ini adalah sebuah film. Hasil karya dari 4 sutradara perempuan. Digadang-gadang film ini merupakan suara perempuan, bisa dilihat dari judulnya, sutradaranya juga ceritanya. Kita tahu di negeri ini perempuan selalu menjadi bagian yang marjinal, karena memang tak lepas dari budaya patriarkal yang sudah kadung melekat.
Menurut kabar juga, film itu dibuat berdasarkan survey. Entah survey macam apa yang dipakai. Asal jangan mengulang jenis survey yang dilakukan Iip Wijayanto saja!
Suatu saat, dalam sebuah mailling list (milis) yang saya ikuti, ada yang bertanya soal iklan... (saya lupa nama produknya, karena itu iklan rokok! Sangat nggak penting untuk diingat. Jadi saya tak perlu bersusah payah mengingatnya.) Dalam iklan itu menceritakan beberapa karyawan kantor yang mendapat hadiah liburan ke Jogja. Kontan 3 orang karyawan itu senang bukan main. Lalu berteriak bersama “Jogja!” dengan gaya yang khas. Sepanjang perjalanan, mereka tak henti-hentinya berteriak “Jogja!”, hingga mereka kecapekan dan tertidur dalam pesawat. Saat mendarat mereka masih saja berteriak “Jogja!”, padahal pesawat sudah mendarat di Bandara Ngurah Rai. Mereka semakin girang karena sampai di Bali. Berasa lebih. Karena melebihi impian dari sekedar ke Jogja.
Orang yang bertanya itu juga merasa sebal dengan iklan itu. Juga beberapa orang dalam milis. Katanya, iklan itu akan menyakiti orang Jogja. Karena Jogja dianggap nomor dua. Mereka pun mengajukan pertanyaan itu.
Maka, saya sebagai orang yang begitu mencintai Jogja pun menjawab. Tidak apa-apa, tak ada masalah dengan iklan itu. Saya sendiri suka dengan teriakan mereka “Jogja!”. Jadi ingin pulang bertemu teman-teman di sana, yang siap juga dengan teriakan a la iklan itu “Jogja!”. Saya memang begitu mencintai Jogja, karena saya lahir dan besar di sana. Kampung halaman untuk saya pulang. Namun saya juga suka Bali, satu-satunya tempat di indonesia yang begitu datang langsung saya suka. Biarpun Bali dibilang nomor satu dan Jogja nomor dua. Biar Paris adalah negeri paling eksotis. Namun bagi saya, Jogja tetaplah kota paling indah di dunia!
Begitulah jawaban saya, dan obrolan “Bali vs Jogja” di milis itu pun berhenti.
Baru saja saya menyelesaikan nonton DVD yang judulnya “This is England!” yang menceritakan nasionalisme Inggris, sekitar tahun 80'an. Kehidupan para Skinhead yang keras. Perlakuan mereka terhadap kaum pendatang, terutama pada orang Pakistan yang mereka sebut “Paki!”. Potret buram generasi muda Inggris dengan narkoba dan kekerasan. Belum lagi perilaku seks bebas. Film seperti itu juga ditemui di “Trainspotting” yang menceritakan para pecandu narkoba di Inggris. Belu lagi film “Two Smoking Barrels” dan “Snatch” yang menceritakan perampokan di Inggris. Kehidupan anak kecilnya pun tak kalah miris dalam film “Mickey Bo and Me” yang belajar merampok. Potret-potret buram dari sisi para sutradara tentang kehidupan di Inggris. Namun tetap saja, saya sebagai orang Indonesia selalu ingin datang ke Inggris. Cita-cita saya sejak kecil adalah melihat dunia lain dengan tujuan utama Inggris dan Perancis!
Jadi tentang film itu, rasanya biasa-biasa saja. Tak ada masalah dengan film itu. Jika pun harus dilawan, tentunya akan lebih dewasa jika dilawan pula dengan karya. Memang belakangan banyak film Indonesia yang menggunakan Jogja sebagai settingnya. Sebut saja “Mengejar Mas-mas”, “3 Hari Menuju Jogja”, “Daun di Atas Bantal”, “Otomatis Roamantis” dan sebagainya. Terlihat bahwa bermacam-macam apresiasi tentang Jogja. Film “Perempuan Punya Cerita” adalah salah satu dari interpretasi itu. Apresiasi mereka tentang Jogja bisa bermacam-macam. Memang harus, disanalah peran seniman. Terlepas dengan adanya riset-riset, atau menjual tema seks pelajar jogja agar para pedhophili pada tertarik sehingga daya jual filmnya meningkat. Lagi pula Upi Avianto, yang jadi salah satu sutradara yang mengangkat tema Jogja, bukan orang Jogja.
Dalam sekuen garapan Upi Avianto itu diceritakan tentang pelajar Jogja yang terseret dalam kehidupan seks bebas. Cerita yang bisa dikaitkan dengan penelitian Iip Wijayanto, beberapa tahun lalu yang menyebutkan bahwa 98% wanita di Jogja sudah tidak virgin. Katanya, film itu mengupas sisi lain dari Jogja sebagai kota pelajar dan kota budaya. Diminta para orang tua harus berhati-hati dengan terus mengawasi anaknya, terutama anak perempuannya, jika menuntut ilmu di kota Gudeg itu. Agak bingung juga pada sisi ini, sementara para feminis menuntut kebebasan dan kesetaraan. Namun mereka sendiri menyuruh untuk mengawasi. Tapi itulah film, setelah dilempar ke pasar. Sutradara akan menjadi orang belakang. Jika masyarakat suka, maka film itu akan laris. Jika tidak maka hal sebaliknya akan terjadi.
Jogja memang mempunyai dinamika tersendiri. Dinamika itu juga berimbas pada apresiasi masyarakat tentang Jogja itu sendiri. Memang kedinamisan itu mulai surut seiring waktu. Media juga ikut serta dalam merubah Jogja. Tak dapat dipungkiri jika wajah media di Indonesia adalah representasi dari Jakarta. Maka di Jogja pun tak sedikit orang-orangnya yang bicara logat Jakarta. Di radio kata “lo-gue” pun tak jarang terdengar. Malioboro yang dahulu menjadi rendezvous para seniman pun semakin hedon. Namun masih juga banyak terlihat seniman wira-wiri merespon tembok jembatan layang untuk dijadikan ajang mural, kaos sebagai identitas dirinya. Juga bentuk helem yang tak terduga.
Kedinamisan yang dimiliki Jogja itulah yang membuatnya menjadi menarik. Selalu saja ada hal baru. Seperti saat saya SMA dulu. Tak satupun dari teman sekelas saya yang berniat membolos. Karena setiap hari adalah hal baru. Tak bosan-bosannya kami bertemu teman sekelas. Kami begitu kompaknya, hingga kelas lain merasa iri. Jika pun membolos, pasti akan dilakukan satu kelas. Terpisah di hari minggu pun, kami sudah saling merindukan. Pasti ada pengalaman baru setiap harinya dengan teman-teman. Bagian hidup inilah yang paling banyak berpengaruh dalam kehidupan saya. Nostalgia-nostalgia seperti itu, salah satunya, yang membuat saya selalu rindu dengan Jogja. Biar bagaimana pun jelek orang bercerita tentangnya.
Jogja dari kamar saya. Gunung Merapi yang sedang meletus (beberapa bulan sebelum gempa)

Iklan. Penghias televisi. Yang sebetulnya jadi sumber pemasukan bagi si stasiun televisi itu sendiri. Setiap orang punya televisi, paling tidak satu. Jika itu benar, maka sempitlah pengetahuan saya tentang media ini. Dan iklan sebagai penghiasnya? Tambah sempit lagi pengetahuan saya. Tak lebih dari manusia picik yang hidup dalam tempurung. Kenapa?
Pernah lihat iklan? Pastinya pernah! Saya yakin setiap orang yang tidak buta huruf pernah melihat iklan. Sekelebat dua kelebat atau malah mencermatinya. Atau yang punya televisi pastinya akan pernah melihat iklan. Jika tidak punya televisi? Di jalanan sekarang rimba raya iklan. Sejauh mata memandang akan bisa dilihat iklan terpancang-pancang, ditempel sanasini. Mengganggu pandangan? Mengganggu pemandangan? Jadi, iklan tak hanya penghias televisi, penghias jalanan, penghias majalah, Koran, radio, tembok, tiang jembatan layang, seng, trotoar, tiang listrik, bilik telephon bahkan tubuh anda sendiri.
Coba cermati iklan-iklan di negeri kita ini! Isinya sama! Entah itu produk jenis apa keluaran dari pabrik mana. Ini tentunya tak lepas dari kreator iklan itu sendiri.
--o0o—
“Wah kowe wis cocok dadi wong iklan!” Begitu kata saya sambil bercanda pada seorang teman yang kebetulan seorang copywriter (penulis naskah iklan) di sebuah biro (agency) iklan yang cukup ternama.
“Lho, ha ngopo?” (Lho kenapa?)
“Ngomongmu wis nganggo kata “at least”. Wis cocok kowe, tenan!”
((gaya) bicaramu sudah menggunakan kata “at least”. Udah cocok kamu, bener)
“Hooh po?” (Apa iya?)
“Lha mau! Lagi entas wae. Trus wingi pas neng Yahoo!Messenger.”
(Lha tadi! Barusan saja. Trus kemarin pas di Yahoo!Messenger)
“Hooh jhe… hehe.”
“Mik kurang kata “wich is”. Yen kowe wis iso nganggo rong kata kui, wis sempurnalah! Mik yo dadine kowe dadi… opo yo? Keseret koyo biasane wong iklan. Yen iso malah kowe gawe istilah anyar liyane mau kae. Lha yen kabeh wong iklan podho njuk piye?”
(Hanya kurang kata “which is”. Kalau kamu udah bisa memakai kata itu, sempurna sudah! Hanya jadinya kamu seperti yang lain. Keseret. Kalau bisa malah kamu bikin istilah baru yang beda dari yang tadi. Lha kalau semua sama terus gimana coba?)
“Hooh jhe, aku yo ngrasakne. Ndhisik pas aku neng D***d trus saiki aku neng C*** ****o wonge ki meh seragam kabeh!”
(Iya, aku juga merasakan. Dulu pas saya di **** trus sekarang saya di **** orang-orangnya hampir seragam semua!)
Sebuah percakapan kecil yang sebenarnya bersama beberapa teman lain. Dan entah kenapa, dalam tiga hari kebelakangnya ternyata ada beberapa percakapan dengan teman-teman yang berbeda yang mirip permainan puzzle bagi saya. Anatar lain tentang sebuah pertanyaan pada diri saya; kenapa saya tak terlalu mempercayai AC Nielsen (Lembaga riset multinasional)? Kenapa saya tak begitu percaya teori? Kenapa iklan Indonesia monoton?
--o0o—
“at least” dan “which is” adalah kata-kata yang sering saya dengar dari orang iklan. Pertama kali memasuki dunia iklan kata itu terasa biasa saja. Namun lama baru saya sadari, ternyata hampir semua orang iklan memakainya. Gaya berpakaian mereka juga sama. Bahkan ada yang lebih insightfull, wanita paruh baya yang bekerja perusahaan iklan, biasanya biro iklan besar, suka sekali memakai selendang yang dilingkarkan di leher. Selendangnya panjang menjuntai hampir menyentuh lantai. Yang jadi Account Executive (AE) bekerja bagai kilat, sementara Art Director (AD) dan Copywriter (CW) terlihat lebih santai. Biasanya malam mereka bekerja, jadi terlihat lembur, atau dibawa di rumah. Tas yang dipakai juga sama. Laptop-nya sama. Jika tidak, paling nggak branded-lah barangnya. Sepatunya juga sama. Potongan rambut juga sama. Tempat mereka hang-out sama (manalagi tempat hang-out di Jakarta yang menarik? Hiburan di kota ini monoton! Bahkan sejak lima tahun yang lalu hanya bergeser mereknya saja.). cara mereka hang-out sama. Saat mereka berkumpul di festival iklan, misalnya, tak ubahnya seperti murid-murid Sekolah Dasar yang kesenangan karena lonceng tanda istirhat berbunyi, berhamburan ke luar dengan pakaian yang sama di tempat yang itu-itu saja. Merah-putih.
Kenapa saya menulis ini?
Karena saya merasakannya. Dari manusianya yang belajar iklan sampai manusia iklan itu sendiri. Dan situasi seperti yang saya ceritakan di atas hampir-hampir tak berubah sejak pertama kali saya bersentuhan dengan dunia iklan. Sekitar 5 tahun yang lalu!
Edan! 5 tahun! Padahal konsumen selalu berubah setiap saat. Padahal konsumen adalah sasaran dari iklan itu. Jika orang iklannya tak berubah, pantas saja iklan Indonesia tampak monoton.
Maaf saja jika tulisan ini terasa lebih vulgar dari tulisan-tulisan saya di bawah sana.
Lalu.
Teman saya yang baru saja pulang dari luar Jawa bercerita tentang keadaan di sana. Standar pemerintahan yang pastinya sudah bisa kalian tebak. Sekilas cara mengkonsumsi media hampir sama. Namun acara yang digandrungi ternyata beda dengan dipulau Jawa. Apalagi, beda sekali sama hasil riset AC Nielsen yang memang kebanyakan respondennya di Jawa. Dan saya sendiri pun hampir tak percaya bahwa suku Asmat (karena saya sendiri juga belum sempat ke sana) di pesisir Papua sana ternyata di rumahnya sudah terpasang antenna parabola yang bisa menerima siaran dari luar negeri, dengan koneksi internet dan dari aksesorisnya berkacamata Oakley terbaru dan memegang handphone nokia. Sementara mereka berpakaian suku primitif dan banyak orang menjadikannya obyek bagi kamera mereka. Itu yang saya dengar dan lihat waktu suku Asmat bertandang ke Ancol, Jakarta.
Indonesia terdiri dari bermacam suku bangsa. Itu sudah jadi pelajaran sejak SD! Kalau ada pameran budaya di luar negeri, pasti akan bingung karena tak menemukan buadaya Indonesia, karena adanya budaya Jawa, Sumatra, Bali, Flores, Papua dan sebagainya. Setiap daerah itu punya karakteristiknya sendiri-sendiri. Punya cara dan adatnya masing-masing. Jika orang ilklannya monoton apa bisa diperbuat dalam waktu-waktu ke depan? Apalagi kebanyakan dari teori iklan adalah teori dari luar negeri Indonesia. Apa mau di kata? Tak ubahnya sebagai pemaksaan! Pemaksaan teori pada karakter bangsa-bangsa. Apa yang terjadi? Mau tak mau karakter itu dipaksa punah. Dipunahkan.
Lulusan komunikasi yang semakin banyak seharusnya dapat mengubah wajah berbagai media di negeri ini. Namun sayangnya banyaknya lulusan itu tak berbanding lurus dengan kualitas media. Lihat saja, acara sahur tiap bulan Ramadhan sudah sejak 7 tahun lebih ke belakang isinya hanya guyonan saja!
Mungkin semasa “Medan Prijaji” (Medan Priyayi) dulu terbit sebagai harian pertama di Hindia, media massa memegang pernanan penting untuk menggerakkan massa. Saat Medan Prijaji memberitakan bahwa sepatu bukanlah simbol dari Kristen dan bukan simbol dari hal yang berbau Eropa, maka esok harinya berbondong-bondong anak mudanya ke took sepatu, menghiasi kaki mereka dengan sepatu-sepatu. Dan sekarang media semakin clutter dengan pemberitaan yang dramatis dan bombastis!
Lalu saat orang-orang iklan berburu award. Pihak klien tetap berburu rupiah. Sebuah hukum ekonomi yang tradisional melawan kegiatan yang lebih bersifat sosial dari orang iklan. Walhasil, ber-onanilah orang-orang iklan. Apa mau diperbuat? Nanti jadi seperti saya! Manusia picik yang tersungkup dalam tempurung.
Mungkin saja permasalahannya Nasionalisme?
Nasionalisme?
Saya sering diejek teman-teman saya. "Hari gini ngomongin Nasionalisme! Jaman globalisasi kok ngomong nasionalisme!" Biarkan saja. Beberapa taun ini saya jadi nasionalis... hehe... Sebab saya pikir, tanpa itu bangsa kita akan terus diinjek sama bangsa lain. Dari ekonominya, informasinya, budayanya... bah! Tentu masih segar dalam ingatan lagu "Rasa Sayange" yang dari Maluku itu hak ciptanya sudah keunyaan Malaysia! Dan saya setuju dengan ide Andre Hehanusa, karya dibalas karya. Dan saya rasa itu bukanlah kepintaran Malaysia, hanya kebodohan kita yang tak memikrkan hal-hal yang dekat dengan keseharian kita. Tempe kalo ndak salah udah milik Inggris. Batik udah milik Malaysia. Sisi mana lagi keindahan Indonesia yang mau di ambil alih manusia luar?
Lebih setengah abad rasanya belum mampu menghapus penjajahan yang tiga setengah abad itu! Masih terlalu muda. Seperti halnya manusia muda, kita harus banyak belajar pada banyak hal. Apapun pada siapapun. Apalagi negeri tetangga yang kebanyakan lebih muda dari usia negeri ini. Masih kental rasa untuk memiliki sesuatu yang dipandangnya bagus tapi bukan miliknya. Harus pandai ngemong pada manusia muda itu. Biasanya kan anak kecil masih tak punya malu untuk berlarian tanpa baju di tanah lapang!
--o0o—
Sebuah kesempatan. Saya mendapat beasiswa untuk sekolah iklan di Jakarta. Hasil dari menang sebuah lomba. Apa yang terjadi? Ternyata cerita saya di atas tentang orang-orang iklan yang sama itu sudah terjadi sejak masa perkuliahan! Gaya bicaranya sama, tongkrongannya sama, laptopnya sama, pakaiannya sama, sepatnya sama, hang-out nya sama, tempat makannya sama.
Bayangkan sebuah kotak. Boleh warnanya merah, putih, item, abu, biru terserah warna yang kau sukai. Bagilah kotak itu. Bisa dengan diiris-iris sama besar, dicacah hingga irisannya berbeda-beda ukuran, dicuil-cuil terserah kalian. Apa yang kalian lihat? Bagian-bagian dari kotak itu, tercerai berai dengan ukuran seperti halnya kalian membagi kotak itu. Tapi warnanya tetap saja semuanya seperti warna yang kalian bayangkan. Sama semua. Berbeda dengan mainan puzzle, tiap bagian punya perannya sendiri. Mereka berbeda. Mungkin hampir sama warnanya. Tapi walaupun mereka berbeda-beda, mereka saling melengkapi dan menjadi satu bagian utuh bersama.
--o0o--
Jadi paling tidak kita akan melihat iklan yang sama dalam beberapa tahun ke depan lagi. Entah itu produk apa dari pabrik mana.
Kapan kita berubah?
Apa akan terus jadi katak?
Apa akan terus melihat jauh kemilau emas di luar yang belum tentu terjangkau, sementara lautan permata dan berlian ada di dekat kita?
Di sinilah Timbulsukoco. Batavia. Itu nama tempat ini dulu, sewaktu koloni Nederland masih bercokol di negeri ini selama tiga setengah abad. Tiga setengah abad! Edan! Tak pendek waktu seperti itu. Lebih dari tiga generasi. Beruntungnya kita. Paling tidak dari mereka yang tak pernah mengecap kemerdekaan. Biar bagaimanapun, terjajah punya rasa yang pahit. Akan selalu di bawah. Jadi budak. Jadi babu. Jadi orang asing di tanah sendiri. Di bawah tamu yang bermuka manis, lalu menikam dari belakang. Diinjak hingga rata. Diperas sampai kering. Merdeka, biar terseok tapi punya harga diri. Mencoba berdiri dengan kaki sendiri. Hasilnya terasa lebih manis. Hanya saja banyak yang terlena. Tak terduga, penjajahan gaya baru sedang berlangsung.
Batavia. Nama pemberian dari bangsa Belanda itu. Yang mengaku asli dari kota ini menyebutnya sebagai Betawi. Entah karena perbedaan jenis lidah atau sekedar penyederhanaan saja. Lidah yang terpleset, dari Batavia menjadi Betawi. Nama Betawi masih saja terdengar hingga hari ini. Fatahillah pun memberi penamaan yang lain bagi kota ini, jauh sebelum nama Batavia ada. Jayakarta. Yang lagi-lagi berubah juga menjadi Jakarta.
Bosan si Timbul dengan kota ini. Tak pernah dia berpikir akan berada di kota ini. Walaupun banyak orang berusaha datang ke sini. Mengadu nasib dan peruntungan. Apa menariknya? Dari loteng tempat dia kos saja jarak pandangnya tak begitu jauh. Tertutup asap polusi kota yang kian hari kian menumpuk. Mengancam masa depan yang harusnya dipupuk untuk dipanen di saat yang tepat. Sejauh mata memandang semua benda mati terpancang-pancang angkuh menyangga langit. Menyembul dari kesumpekan yang ada di bawahnya. Sombong sekali dia! Awan pun bakal tersangkut saking tingginya pancang langit itu. Tempat bermain yang menyenangkan jika Spiderman ada di sana. Tapi pasti Aladdin akan ketir-ketir jika permadani terbangnya ngebut di sini. Menghindar ke kiri dan ke kanan. Huh… gedung-gedung itu. Tak pernah bergerak barang sesenti pun. Julang menjulang menantang langit. Di dalamnya banyak manusia saling berpacu. Berlomba. Seakan ada setan yang mengejar di belakangnya tiap hari.
Dari loteng sini hanya pepohonan saja yang terasa hidup. Bergoyang diterpa angin. Diancam polusi. Belum lagi mata gergaji jika si pohon sudah dirasa mengancam jiwa yang ada di bawahnya. Pohon. Jumlahnya pun tak lebih banyak dari pohon di pekarangan kakek Timbulsukoco di Prambanan. Rindu dia dengan suasana desanya. Biar dibilang ndeso. Biar dibilang medhog. Biar dibilang ketinggalan jaman. Dia bangga dengan kotanya sendiri. Bangga dengan medhog-nya. Biara tambah puas mereka menyebutnya “Jawa”! Bukan chauvinis. Dia hanya merasa tak banyak lagi yang memikirkan kotanya. Sebagai rumah tempat dia tinggal. Tempat suatu saat dia akan pulang. Berkumpul lagi dengan masa lalunya. Tak banyak lagi yang peduli dengan kotanya, apalagi dengan negeri ini. Kotanya sudah ditumbuhi mal. Hampir-hampir tercerabut akar budayanya. Manusianya sudah merasa populis. Bicara dengan logat “Lu” atau “Gue”. Bahkan rajanya pun sudah terkesan matre dan gila kekuasaan. Bisa jadi pepohonan dipekarangan neneknya itu akan menyusul di kemudian hari. Menggusur naungan anak-anak kecil yang bermain di bawahnya.
Aiii… kota yang gagah. Batavia. Jakarta. Ramai di siang hari. Gemerlap di malam hari. Denyutnya kencang macam manusia yang kena jantung. Disedotnya semua anak negeri ke kota ini. Ribuan mimpi berdatangan tanpa dipanggil. Tak banyak yang berhasil meraihnya. Betapa sayangnya. Negeri ini amat kaya. Negeri ini amat luas. Sayang jika hartanya hanya dikumpulkan di satu tempat.
Negeri ini amat indah. Saking indahnya, banyak orang tertarik padanya. Ingin mereka datang ke negeri ini. Gunung gemunungnya berwarna-warni mirip karpet bikinan Istambul. Malah lebih indah. Sayang, bayak yang dibakar. Mungkin mereka ingin bikin motif yang baru. Jika katulistiwa ini adalah sebuah cincin bagi bumi ini, maka negeri ini adalah mahkotanya. Zamrud yang indah. Bikin bangga orang yang memakainya. Bikin iri orang yang melihatnya. Kilaunya gilap gemilap diterpa cahaya. Nampak cantik. Amboi... negeri yang indah. Pantas saja negeri lain pada iri dibuatnya. Sampai-sampai mereka mengeluarkan Travel Warning!Ke Jawa! Jawa! Duh… sombongnya!
Apa dia pikir Jakarta ini bukan di Jawa?
Apa pernah Ferdinand de Lezep pernah mampir ke Jakarta dan menggali sebuah terusan untuk memisahkan Jakarta dari Jawa? De Lezep memisahkan Afrika dengan Asia. Dibangunnya terusan Zues. Dengan memipil sedikit Mesir ke Afrika. Walau begitu, Mesir pun masih menjadi bagian dari Asia. Betapa sombongnya kata-kata orang itu. Dalam hati Timbul mengumpat. Jawa! Jogja ada di tengahnya, agak ke selatan. Dan Jakarta ada di, hampir, ujung sebelah Baratnya. Kita sama-sama di Jawa! JAWA! Pelecehan!
Jawa. Ya… Jawa.Dulu pulau ini punya budaya tinggi. Sebelum diinjak-injak para muka pucat dari Nederland. Salah satu negeri di Eropa. Yang daerahnya, kalau bukan karena memanfaatkan tenaga paksa dan hasil bumi dari Hindia, pasti sudah hilang ditelan laut. Tak ada Nederland dalam peta dunia! Tak ada! Neither Land!
Orang-orang Majapahit yang ada di Jawa pun sudah menaklukkan samudra ketika orang-orang Eropa masih belum mengenal pakaian dan tinggal jadi manusia gua. Jauh sebelum Bartholomeus Diaz atau Vasco da Gamma mengelilingi lautan. Namun tercatat pun tidak. Hanya tergambar dalam salah satu fragmen relief di Borobudur. Itulah sejarah. Selalu berpihak pada yang berkuasa. Selalu begitu. Dan akan terus begitu. Sejarah sangat subjektif. Para pahlawan hanya propaganda penguasa untuk mengukuhkan kekuasaan. Sekarang Baratlah yang berkuasa. Eropa. Amerika. Yang di Timur hanya menerima saja. Coba jika bangsa Cina dulu tak menemukan kertas. Mau bikin apa si Guttenberg! Coba dulu jika Richard si Hati Singa tak membakar perpustakaan besar di Baghdad. Sudah terseok-seok pula mereka sekarang mengikuti perkembangan teknologi orang-orang Asia! Dasar raja tak tau terimakasih! Harusnya Sultan Saladdin tak membantunya menyembuhkan penyakitnya.
“Ah… di sini lagi. Di kota ini lagi.” Desah Timbul. “Bosan!”
Belum setengah jam dia ada di Jakarta lagi, sudah kangen lagi dia dengan Jogja. Sebetulnya rasa kangennya dengan Jogja sudah ada sejak kereta beberapa senti mulai meninggalkan stasiun Tugu. Lalu melewati jembatan kereta Badran. Dapat dilihat di Selatan perempatan mencekung dengan guratan-guratan lampu berwana kekuningan. Mobil dan motor saling berseliweran (Sedikit ke Timur akan segera sampai Malioboro). Sesudah itu, pintu kereta Wirobrajan. Wah… diselatan sana ada rumah teman-teman. Tempat berkumpul dan bersendau gurau atau keluar malam-malam mencari makan di warung Angkring Lik Min. menikmati jahe panas gula batu dan beberapa camilan dan obrolan malam yang hangat. Lalu, Wates… dan Timbul pun meninggalkan Jogja. Makin penuh rasa kangennya. Pada kota kecilnya. Yang diharapkannya akan tetap kecil dan menjaga ke-ndes
oan-nya. Agar dia masih punya tempat untuk pulang.
Dulu waktu pertama kali ke kota ini. Dia hanya pingin tau, kenapa banyak orang ingin mendatangi Jakarta. Pertama kali dating dengan kereta ekonomi. Panas. Pengap. Biayanya dari uang patungan teman-teman kampus. Memang hanya cukup untuk kereta ekonomi pulang balik. Belum untuk transport mondar-mandir di sana. Timbul berdua dengan temannya yang lahir dan besar di Jakarta. Lalu kuliah di Jogja (akhirnya temannya sendiri jatuh cinta juga dengan Jogja. Tak mau dia kembali ke Jakarta). Kereta merayap lambat. Bahkan mogok di salah satu stasiun! Mogok selama dua jam! Dan akhirnya telat pula beberapa jam sampai di Jakarta. Tujuan mereka adalah mencari dana dari para alumni kampus untuk penerbitan media di kampusnya. Fisipol, Komunikasi UGM.
Kunjungan pertama itu ternyata tak begitu memikat. Jakarta ternyata tak seperti yang diomongkan orang. Tak betah juga dia di sana. Ditahannya rasa ingin pulang. Waktu seminggu. Hanya seminggu. Tujuh hari. Harus kuat. Dana belum terkumpul mencukupi. Media harus terbit. Mengharapkan universitas memberi dana sama saja mencubit raksasa. Mereka harus berjuang sendiri. Menghidupi dirinya sendiri. SPP cuman 225 ribu saja banyak minta! Diterima juga udah sukur. Di swasta, biaya per semester mahasiswa di sana bisa cukup untuk membayari kuliah Timbulsukoco… Hingga tamat!
—o0o—
Kleterk!
Timbul mencoba meluruskan persendiannya dengan memutar tubuhnya. Capek. Sekitar delapan jam duduk dalam kereta, menunggu sampai. Lebih cepat kereta ini, dari saat dia pertama kali naik kereta ke Jakarta. Sudah bisa beli yang ada AC-nya sekarang dia rupanya. Tapi tetap saja. Capek! Masih ada waktu barang satu setengah jam untuk meneruskan tidur.
Satu setengah jam berselang. Bangun tak langsung bangun. Masih terasa malas. Hari senin. Ke kantor lagi. Mencoba mengabdikan diri pada sebuah perusahaan dengan banyak intrik licik di dalamnya. Kantor. Kerjaan. Kata-kata itu terlalu serius saja buat Timbul. Kenapa ada kata “kantor” dan “pekerjaan” dalam kosakata bahasa Indonesia. Kenapa? Bikin penat saja. Kenapa pula J.S. Badudu memasukkannya dalam kamus besar Bahasa Indonesia. Dalam pikiran Timbulsukoco sendiri dia mencoba membangun citra. Dia persepsikan. Kantor adalah tempat bermain. Dan pekerjaan adalah permainannya. Jadi mari bermain-main. Bangun dari tempat tidur! Lekas mandi! Sambut hari ini! Sehabis dari Jogja pasti Timbul bawa semangat baru. Mari lekas segera bermain.
Timbul pun bangun. Kembali memutar tubuhnya ke kiri dan kanan. Terdengar geletukan persendian yang longgar. Bangkit dia dari kasurnya. Menuju televisi yang jaraknya hanya selangkah. Dihidupkannya. Di pindah-pindah channelnya. Malah bikin bosen datang lagi. Menyesal dia menghidupkan televisi. Harusnya tak dihidupkan. Acaranya pagi-pagi selalu gossip! Tak ada yang lain! Acara televisi makin tak karuan!
Tampaknya mendengarkan Pizzicato Five atau Pink Martini akan membuat hari ini kembali menghentak!
—o0o—
Mari… mari sini. Biar diajaknya kau ke Jakarta. Di sini banyak bangunan tinggi, lebih tinggi dari pohon kelapa tertinggi di desamu. Yang mungkin suatu saat kau akan berada di dalamnya. Memanjatinya tiap hari dengan eskalator atau lift tanpa harus capek. Banyak tempat dan manusia lucu di sini. Kau pasti akan tertawa jika berhasil menyibak sisi lucunya. Tapi, jangan bayangkan di sini banyak pelawak. Pelawak betulan di sini tak lebih lucu dari pelawak-pelawak Srimulat. Mungkin karena beda budaya. Kau harus siap menghadapinya. Siap dengan budaya baru. Jika tak siap, bisa-bisa kau dianggap orang aneh di sini. Bikin orang lain ilfil (Ilang feelling). Lalu menjauhimu. Bahkan para wanita pun tak akan mau berdekatan denganmu jika kau masih bau kubis dapur atau rambutmu acak-acakan dan bau matahari.
Di sini juga banyak mal. Tempat belanja dengan benda apa saja di dalamnya. Beda dengan pasar Sambilegi yang dulu kau sambangi jika ibumu menyuruhmu mengantarnya belanja di sana. Di mal ini semuanya ada. Dari mobil hingga barang-barang bajakan. Pernah kau lihat ada orang menjajakan mobil di pasar Sambilegimu? Tentu tak pernah. Paling banter hanya mobil-mobilan. Digantung-gantung dengan plastik seadanya dipaku dalam bambu yang sudah hitam keriput. Itupun dengan kualitas nomor sekian.
—o0o—
Sewaktu jurusan tempat Timbulsukoco kuliah dulu melakukan studi banding ke perusahaan-perusahaan di Jakarta banyak hal lucu terjadi. Salah satu acaranya adalah pergi ke mal. Taman Anggrek menjadi sasarannya. Masuklah mereka ke sana. Heran! Seperti di Hong Kong saja. Sementara Timbulsukoco dan beberapa temannya yang lain di depan pintu Mal Taman Anggrek yang unik. Berputar. 360 derajat. Bentuknya, tentu saja bulat. Terbuat dari bahan tembus pandang. Ada bagian tertentu yang jika melewatinya, kita akan benar-benar terkurung barang setengah detik di dalam pintu itu.
Mereka terheran-heran melihat pintu itu. Berdiri berjajar memandangi pintu itu dimasuki orang-orang. Terbengong-bengong.
“Kita masuk saja!”
“Wah… wedi aku!” (Wah… takut saya)
“Aku yo ho oh!”
“Mengko yen pas awak dewe mlebu, trus lawange macet pas neng nggon sing ketutup kui piye hayoh?! Awak dewe malah raiso metu!” (Nanti kalo pas kita masuk, trus pintunya macet pas di tempat yang tertutup semua itu gimana hayoh!? Kita malah nggak bisa keluar!)
“Hooh… ning kok yo, aneh-aneh ae yo? Sing nggawe sopo yo?” (Hooh… tapi kok ya aneh-aneh ya? yang bikin siapa ya?)
“Mbok wis, dikek i lawang biasa ae ngopo?” (Mbok sudah, dikasi pintu b
iasa aja gimana?)
“Hooh, dikek i lawang koyo omahmu kalo lho tho?” (Hooh, dikasi pintu seperti yang di rumahmu itu lho tho—“tho” kalo dalam bahasa Indonesia semacam “Bro”)
“Nganggo kere ae ngopo! Trus di pasangi lincak ngarepe. Trus ono manuk kutut e neng ndhuwur! Karo ngopi-ngopi kan penak tho metheti manuk kutut! Neng moll meneh!” (Pake kerai aja gimana! Trus dipasangi kursi malas bambu depannya. Trus ada burung perkututnya di atas! Sambil ngopi kan enak bermain sama burung perkutut! Di mal lagi!)
“Huahahaha…!”
Semua tertawa. Sebuah “rapat” kecil terjadi di depan pintu mal yang besar itu. Tanpa malu mereka membentuk lingkaran. Duduk bersila. Beralas lantai marmer yang lebar. Hanya untuk memutuskan apakah akan masuk mal itu atau tidak. Obrolan malah berkembang tak tentu arah. Imajinasi dan kelucuan terlontar. Lepas. Tanpa kepalsuan. Diantara orang yang lalu lalang. Malah yang lalu lalang tersenyum-senyum melihat kondisi Timbulsukoco dan teman-temannya. Saling menertawakan tepatnya. Timbul dan temannya menertawakan keadaan Jakarta. Akhirnya mereka diusir satpam. Menggangu pemandangan katanya! Masa lesehan di depan mal. Ini bukan Malioboro!
Maka diputuskan bahwa Timbulsukoco dan kawan-kawannya tidak jadi masuk ke mal Taman Anggrek menyusul teman-teman yang lain. Takut pada pintu, mungkin. Atau takut pada satpam! Mereka kembali ke bis. Membawa banyak kelucuan untuk dibawa pulang. Oleh-oleh untuk diceritakan saat tiba di kampus di Jogja. Dikenang besok saat berkumpul kembali.
Mal tampaknya bukan tempat yang cocok buat Timbulsukoco. Pasti kepalanya jadi pening. Pikirannya berkelana kemana-mana. Tak dapat konsentrasi. Jika berada dalam mal lama-lama bisa-bisa otaknya lepas dari kepalanya. Terpental begitu saja dari batok kepalanya. Hingga dia tak akan ingat lagi apa yang akan terjadi. Memang jarang dia ke mal.
“Tak baik buat kesehatan!” Kata Timbul. “Banyak orang-orang palsu!”
“Lha iya… wong di sana kan banyak jual baju! Jadi pasti banyak mannequin.”
“Bukan… bukan!”
“Lhoh terus?”
“Maksudnya… gini… ehm… gimana ya… o ya! Saya pas ke mal kemaren ketemu Tao Ming Tse!
“Weits! Trus?”
“Rambutnya Tao Ming Tse! Mukanya sih item! Trus kalo ngomong pake lu-gue… tapi suaranya medhog!”
“Ooo… lhah kan sama kayak kau. Medhog!”
“Iya sih. Cuman saya berusaha agar medhog saya nggak ilang. Lha itu, si Tao Ming Tse item itu! Udah medhog-nya pura-pura diilangin, tambah bicara gaya Jakarta lagi!”
“Malu kali dia.”
“Kenapa malu? Memang begitu kok. Kenapa harus dipaksakan?”
“Ya kan orientasi orang beda-beda. Kali aja dia lagi pendekatan ma cewek.”
“Ngapain?! Palsu akan selamanya palsu! Biar ditutupi pakai tembok tujuh lapis. Daun tujuh rupa dengan air dari tujuh samudra pun akan ketauan! Dia tak akan jadi laki-laki sejati!”
“Halah! Gayamu! Emangnya kau ini lelaki sejati? Mana cewemu? Jarang saya liat kau sama cewe. Kuliat temen cewemu di Jogja banyak juga. Apa salah satunya punyamu?
“Ya iyalah… dari 70 mahasiswa seangkatan, yang cowo cuman 24! Tuh apa gak dobel-dobel!”
“Trus yang satunya apa punyamu?”
“Hmmm….”
“Cuman… “Hmmm”? tak kau pilih salah satunya di antara mereka?”
“Mungkin cewe memang suka dibohongi!”
“Lhah kenapa? Saya juga pernah dengar kata-kata itu. Tapi pertanyaanku belum kau jawab. Banyak juga teman cewemu. Yang sms banyak. Yang ngajak kau jalan banyak juga. Kenapa tak kau pilih salah satunya?
“Hmmm…” Sambil garuk-garuk kepala. Bingung mau jawab apa. Rambut Timbul malah makin acak-acakan saja.
Tak pandai memang Timbulsukoco menghadapi wanita. Pada dasarnya dia adalah seorang pendiam. Tak banyak bicara. Hanya mau bercerita pada orang-orang tertentu saja. Yang bisa mengikuti gaya bicaranya. Yang bisa mengikuti jalan pikirannya. Memang gaya berpikirnya agak tak meyakinkan. Zig-zag. Tak sistematis. Tapi bukannya tak konsisten. Hanya kalau sudah kenal lama mungkin akan berbeda. Bicaranya lebih blak-blakan. Memberi komentar sekenanya. Kadang malah tak masuk akal hingga terkesan konyol dan menimbulkan banyak tawa.
“Mungkin saya harus jadi si Tao Ming Tse item di mal itu ya?”
“Tu kan… it namanya gak konsisten. Tadi kau kata apa…?”
“Bukan begitu…. Hmmm.”
“Hmmm lagi!”
“Kadang saya merindukan teman-teman saya di Jogja. Bukan kadang lagi. Tiap saat. Mereka lebih jujur rasanya. Lebih terbuka. Suka bilang suka. Enggak bilang enggak. Saat saya punya kesalahan. Mereka dengan terang-terangan mengatakannya pada saya. Hingga saya dapat belajar dari kesalahanku. Di sini, sekarang ini, di Jakarta. Sepertinya mereka sungkan mengataknnya. Tau-tau saja mereka diam. Kenapa? Saya tak tau. Untung saya orangnya cuek. Jadi tak begitu kuhiraukan. Ngapain… padahal saya mau menerima apapun kritik yang ditujukan pada saya. Bahkan jika ada orang bilang saya “Bangsat!” pun akan kuterima. Asal mau mengatakannya baik-baik. Misalnya gini; Eh Mbul… kamu kok bangsat ya!”
“Hehe… jangan pukul rata donk. Ingat ini bukan kotamu. Budayamu berbeda dengan di sini. Banyak orang kira bahwa orang Jogja adalah orang lembut. Tapi nyatanya beda! Contohnya kau sendiri. Dari caramu ngobrol. Bergurau. Kau tipikal Jogja banget! Tapi memang saya rasakan sendiri, cara bercanda orang Jogja memang sarkastik. Bicara lembut namun punya arti yang dalam, bahkan menjurus kasar. Ya… sarkas tadi! Kau pasti mengira bahwa yang di kota besar ini lebih terbuka kan?”
“Yak betul!”
“Ternyata beda bukan?”
“Yak betul!
“Ingat… seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran. Jangan hanya mempercayai kabar burung. Kau harus merasakannya sendiri. Posisikan dirimu seperti mereka. Jadi jangan menghakimi.”
“Weits… kata-katanya Pramoedya Ananta toer itu. Di novelnya “Bumi Manusia”.”
“Hehe…”
“Tapi… dengan tidak mengatakan duduk persoalannya. Mana tau saya apa kesalahanku? Emangnya saya bisa membaca pikiran orang? Lagian kenapa orang-orang yang tahu kesalahanku itu tak mau juga cerita pada saya, jika tak kupaksa. Apa mereka mau merawat luka yang lama-lama akan jadi busuk?”
“Udah dibilangin! Budayamu tuh beda dengan di sini! Kau harus terima! Kau minoritas di sini. Kau akan dianggap gila jika tak mengikuti mereka!”
“O jadi saya memang harus jadi Tao Ming Tse itu?”
“Nggak perlu! Adhuh… kenapa kau begitu terobsesi sama dia sih?”
“Kalo saya jadi kayak Tao Ming Tse tadi, kan saya sudah bisa bohongi cewe. Dengan begitu saya akan jadi playboy. Saat saya jadi playboy maka tak akan saya sisakan satu cewe pun di dunia ini buat lekaki manapun! Termasuk buat Brad Pitt, Primus, Bill Clinton apalagi kau! Tadikan katanya kalo tak ikut maka akan dianggap gila.”
“Memang kau sudah gila!”
“Asemik!”
“Trus?”
“Apanya?”
“Kenapa kau jadi antipati sama mal?”
“Antipati bukannya benci. Mal. Dibikin sedemikian rupa. Oleh arsitek-arsitek
kelas atas. Etalasenya disusun rapi. Banyak barang di sana. Mata jadi manja. Terbuai oleh imajinasi-imajinasi. Dihasut iklan. Supaya kita beli. Buat dipakai. Dipakai berpalsu tadi. Saya lebih memperhatikan manusianya sih. Seperti… apa ya? Aura saya tak cocok dengan mal itu. Berpalsu-palsu. Saya tak betah. Tak nyaman. Berjuta rayuan gombal cowo pada cewenya. Ya ampun… moga-moga si cewe itu tetap sadar akan dirinya yang sedang dihadapkan pada kepalsuan. Juga si cowo harus berhati-hati. Semakin banyak kata semakin banyak kesalahan. Mereka kira mal hanya milik mereka. Segerombolan pengerat yang coba menguras harta orang tuanya. Mereka pikir semua di dunia ini bisa dibelinya dengan uang. Bisa diselesaikan dengan uang. Tinggal bawa nota. Bawa ke kasir. Semua masalah selesai… gedung gagah itu cukup untuk menutupi wajah yang dia kira tak layak untuk ditonton. Sembunyi mereka dalam yang palsu-palsu.”
“O… menarik? Apa tak ada hal positif di sana? Yang negatif selalu ada yang positif kan. Ingat Tuhan menciptakan alam ini berpasang-pasangan.”
“Hmmm…”
“Hmmm lagi! Edan! Pasti soal cewe!”
“Ngapain sih setiap “Hmmm”-ku kau hubungkan sama cewe. Mungkin saja saya sakit tenggorokan!”
“Ya apapunlah… apa hal positifnya?”
“Belanja. Cuci mata. Mau apalagi?”
“Cuman itu?”
“Cuman!”
“Sedikit sekali.”
“Ya cuman itu. Tak ada hal lain yang menarik. Ya…yang datang memang menarik juga sih. Tubuh tinggi semampai mirip lagunya Dewa 19. Pernah saya berada di mal.
Paling lama sepanjang hidupku. Hingga mal-nya udah tutup, saya masih di sana! Memang ada satu alasan yang menahanku ada di sana. Memang tak semampai seperti lagu Dewa 19 tadi. Tapi matanya menarik. Menggaris. Melengkung menghias muka. Kalo tertawa menyenangkan. Cantik sekali. Dapat kulihat kilauan matanya yang cantik mengintip dibalik kelopaknya. Taukan, apapun bisa dilihat pada mata. Hati-hati memandang mata seseorang. Apalagi lawan jenismu. Seperti Medusa saja. Kau akan membatu. Sulit bergerak. Tak tau kau akan berbuat apa. Tak tau apa yang akan kau katakan. Bisu. Kau jadi batu. Apalagi bagi saya yang pendiam ini. Baru sekali-kalinya ketemu lagi. Mau berbuat apa saya dalam mata seperti itu, coba? Pandangannya seperti ribuan panah cupid menyerang. Jika tak siap menangkis akan jatuh kau dalam sudut kerlingnya sekalipun. Seperti itu lho… lagu lama yang dinyanyikan White Shoes and the Couple Company. Apa yang harus kulakukan? Tak tau saya cara memperlakukan wanita. Kan sudah saya bilang kan tadi.
Ibuku pernah bilang, saat kami berjalan menuju pasar Sambilegi; Nak kalo berjalan bersama wanita, kau harus yang paling dekat dengan jalan. Kau laki-laki. Tunjukkan bahwa mampu melindunginya, walau hanya dalam hal kecil seperti ini. Entah itu dengan wanita manapun. Pacarmu. Istrimu. Atau teman perempuanmu. Tapi masih saja saya bingung. Tau kan keadaanku kalo kelamaan di mal? Tak bisa berpikir jernih. Kalang kabut otakku. Rasanya sudah siap otakku meloncat dari kepalaku. Pulang sendiri. Meninggalkan kepalaku sendiri terbengong-bengong mirip orang bego di mal. Di mal semuanya adalah jalan. Sepertinya semua aman kan? Kecuali jika ada supir pesawat Boeing 737 lagi ngantuk dan kendaraannya kesasar masuk mal itu bisa dikatakan keadaan luar biasa berbahaya sedang terjadi!
“Sebegitunya kau sama mal. Lalu kenapa tak kau ajak aja dia ke café? Sambil menikmati musik jazz atau musik-musik easy listening lainnya. Sembari main scrabble kayak di Jazzcoffee kan asik. Atau sambil baca buku seperti di Deket Rumah Café sembari ngobrol di temani es coklat dan camilan. Atau di Kedai Kopi, kalau kau bawa laptop kau bisa internetan gratis di sana!”
“Yah ini manusia! Gak tau apa? Saya gak tau café di Jakarta seperti apa. Itu di Jogja! Saya dengan mudah menemukannya. Mau apa? Sambil nonton film gratis, tinggal ke Kinoki Café. Atao yang sambil liat leleran lahar merapi dengan ditemani musik keroncong tinggal naik ke Kedai Poci di Kaliurang! Asal jangan ke Hugo’s Café aja! Sama saja bunuh diri! Lebih palsu lagi manusia di sana!”
“Lhah terus?”
“Yah… kau bisa tebaklah! Tak banyak bicara saya di sana. Tak seperti di sms. Beda komunikasi lewat tulisan dengan lisan langsung. Di sms ada waktu untuk berpikir. Menyusun kata. Jika tak dibalas. Maka ribuan duga sangka akan muncul. Jadi setelah pertemuan itu, wajar jika dia berpendapat apapun. Berapresiasi apapun tentang saya. Bahkan pendapat paling negatif sekalipun. Sa
ya rasa saya harus menhormati apapun pendapatnya. Pendapat tak ada yang salah bro! Pikiran manusia akan menyimpulkan dengan sendirinya. Kerangka pengalaman dan kerangka berpikirnya akan saling berkompromi menghasilkan kesimpulan. Mungkin juga saya memang bersalah. Taukan otak saya sudah jalan pulang lebih duluan di mal itu? Jadi seperti lupa ingatan saya. Apa saja yang kulakukan selama di mal itu? Adakah saya kelupaan sesuatu? Mungkin saja? Ah… bodohnya! Masih banyak yang harus saya pelajari tentang dunia venus ini.
“Wah… menarik. Tapi saya kira tak ada manusia bodoh di dunia ini. Yang ada hanya orang yang belum tahu. Makanya saya setuju. Kau memang harus belajar. Bertemu banyak orang akan membantumu.”
“Moga-moga aja. Apa memang perlu saya jadi Tao Ming Tse tadi?
"Yak ampunnnn!!! Tao Ming Tse lagi! Jika ketemu ibunya Tao Ming Tse akan kusuruh dia memasukkannya kembali ke dalam rahimnya. Cukup begini saja. Cukup kau jadi Timbulsukoco! Tak perlu jadi orang lain. Hanya saja, ijinkan orang lain melihat dirimu lebih dalam lagi. Biarkan orang mengenalmu. Setelah mengenalmu, ternyata nyaman kok ngobrol denganmu. Banyak hal bagiku yang bisa kudapatkan.”
“Halah…!”
“Tapi bisa juga kau bercerita. Si Timbulsukoco yang katanya pendiam ini! Melankolik. Dengan gayamu sendiri. Tapi kau bicara dengan banyak alasan. Alasan beda budayalah. Kependiamanlah. Otakmu yang bisa lari-lari pulang ke kosamulah…
“Bukan lari… otakku naik taksi sendirian!”
“… ah, apapun itulah! Banyak alasan saja kau ini bercerita. Intinya kau tak bisa menghadapi perempuan, titik! Itu kan?! Tak peduli apa yang terjadi padamu, itu adalah masalahmu. Hadapi dia. Alasan-alasan hanya akan memperlihatkan bahwa dirimu lemah. Berlindung di balik alasan. Bukan sifat seorang ksatria. Egois! Jika kau merasa salah, minta maaf saja. Masalah jawabannya iya atau tidak, itu urusan dia. Ingat kesempatan tak datang dua kali!”
“Ah… saya tak percaya. Kesempatan tidak datang sekali. Dia datang berkali-kali. Hanya saja kita harus memilih yang terbaik dari banyak kesempatan itu. Hingga seakan-akan dia datang hanya sekali.”
—o0o—
Uh… obrolan tentang jatidiri. Jadi kaca dia bagi diri Timbulsukoco ini. Kota ini memberikan banyak pengalaman. Makin tahu saja ia tentang dirinya sendiri. Walaupun belum semuanya. Paling tidak sedikit demi sedikit banyak pertanyaan, yang terpancang tiap waktunya di kepalanya, satu per satu mulai menemukan jawabannya. Hidup memang seperti petak-petak puzzle. Banyak teka-teki. Kadang jawaban dulu yang muncul. Baru pertanyaan menyusul. Memang aneh sepertinya. Namun keping-keping hidup yang dilewati sedikit demi sedikit akan segera tersusun.
Manusia. Selalu tak akan pernah puas. Itukan kelebihan yang di berikan Tuhan pada ciptaannya yang paling sempurna ini. Berpikir! Diberi-Nya kita segumpal lemak di kepala untuk melakukan itu. Sayangnya, itu masih jadi pekerjaan yang terlalu berat. Berpikir. Hingga tak banyak orang yang mau melakukannya. Berpikir. Maka akan banyak pertanyaan yang muncul di sana. Kenapa kita ada di sini? Ke mana kita? Apa yang akan kita lsayakan? Siapa itu Tuhan?
Selalu ada jawaban dari begitu banyaknya pertanyaan itu. Hanya saja jawaban-jawabannya kadang terlalu lama. Dan kita dirundung putus asa dan menyimpulkannya sendiri. Tak salah. Memang tak ada salahnya. Memang manusia selalu tidak sabar. Selalu tak puas tadi. Pikirannya sendiri pun bisa meracuni dirinya. Dan akhirnya putus asa juga. Huh… putus asa! Hanya milik orang-orang yang kalah. Kalah sekalah-kalahnya! Hanya orang konyol yang mengakhiri keputusasaan dengan bunuh diri. Perbuatan paling konyol. Dikutuk sama Tuhan! Memang tak pantas orang seperti itu hidup. Hanya jadi kotoran dunia. Sudah kalah sebelum berperang. Tzun Tzu pun akan berang bukan kepalang jika bertemu orang seperti itu.
Jakarta. Di Jakarta ini. Tentunya banyak keputusasaan. Banyak cita-cita terkumpul di sini. Maka banyak juga yang tak tercapai. Yang tak kuat akan putus asa. Menyesali nasib. Terlambat. Salah sendiri, kenapa mau manjadi peserta dalam kompetisi besar di Jakarta ini?! Dalam kompetisi selalu ada yang menang dan kalah. Itu sudah pasti. Hal terburuk harus mendapatkan jalan keluarnya. Siap kalah. Siap pula menang. Itu resiko. Selalu ada resiko dalam banyak hal. Jika dilakukankan secara benar. Kompetisi bukan halangan besar. Itu Sesuatu yang menarik untuk dilewati. Mengenalkan pada banyak hal. Harus disikapi dengan pikiran terbuka dan dewasa.
Sudah saya bilang, di Jakarta orangnya lucu-lucu. Panggung Srimulat besar dengan ikon tugu monas. Kata temanku, yang orang Jakarta juga, orang-orang Jakarta sama semua. Apalagi yang muda. Hidupnya seperti bebek. Ekor mengekor hingga panjang. Satu mode lagi naik, maka di ujung yang lain akan segera mengikuti. Itu bukan kata Timbulsukoco lhoh! Kata temen Timbulsukoco sendiri yang orang Jakarta. Jadi inget dia sama bebek-bebek tetangganya yang tiap sore lewat di depan rumanya. Berjalan beriringan. Mencericau tiada henti. Tak jelas apa yang diomongkan. Sudah hapal bebek-bebek itu dengan jalan yang akan dilaluinya. Si tukang angon malah berjalan di belakangnya.sambil makan ubi rebus dari dapurnya. Wek… wek… wek… berjalan megal-megol. Tubuh ramping. Amboiii…. Betapa centilnya!
—o0o—
Aih… masih saja Timbulsukoco di sini. Jakarta. Tempat banyak ego juga terkumpul di sini. Merantau si Timbulsukoco ini di sini. Dia akan jadi perantau. Kata seorang temannya ketika membaca garis tangannya. Walaupun dia selalu ingin pulang dan tetap di Jogja, namun rejekinya bukan di Jogja. Timbulsukoco harus keluar, kata temannya itu. Tetap jadi perantau. Ke banyak tempat. Traveler. Memang sejak kecil dia tak pernah selalu ada di tempat. Terutama jika liburan. Baru Jawa, Bali dan Sumatra saja tempat di dunia ini yang sudah diinjak Timbulsukoco. Masih banyak belahan bumi ini yang sayang jika tak dirasakanya sendiri.
Jakarta. Tempat terlama di luar Jogja, yang dia tinggali. Sudah hampir setahun. Terlalu lama, bagi Timbulsukoco, untuk meninggalkan Jogja. Tapi inilah mungkin garis hidupnya. Paling tidak menurut garis tangan yang pernah dibacakan temannya. Uh… kota yang lucu. Kenapa harus tertekan? Kenapa harus frustrasi? Bukankah Jakarta adalah bagian dari Jogja? Lihat saja tulisan “Jogjakarta”! lihat kan! Terlihat jelas. Jakarta bagian dari Jogja. Jog-Jakarta. Betapa lucunya. Kota ini lucu juga jika dipikirkan. Sangat bertolak belakang dengan kotanya sendiri. Hanya untuk main sepakbola saja susah. Harus menyewa. Dihitung detik per detiknya. Tak boleh lebih, jangan kurang. Kasihan. Di Tempat Timbul, masih tersedia banyak lapangan. Bekas sawah. Bermain di sana, ditemani kambing, sapi, ayam, bebek dan lintah-lintah. Sebuah parodi tentang gaya hidup. Sebuah Joke Jakarta.
Loteng Kos-kosan
4 Agustus 2007